
Apakah, ketidakhadiran yang tidak diharapkan sama sakitnya dengan kehadiran yang tidak diharapkan? Jika iya, baiklah impas.
Amalia. 20 yo. Malang. Book. Sport. Art. Smile. Let your dream take flight :)
Theme by Caroline Tucker.
Powered by Tumblr.
;)
Pengampunan tidak harus selalu sepaket dengan kesempatan. Jika karakter yang buruk telah melukai perasaanku dan kasih sayang yang aku punya tidak...

Apakah, ketidakhadiran yang tidak diharapkan sama sakitnya dengan kehadiran yang tidak diharapkan? Jika iya, baiklah impas.
maaf aku tidak cantik
maaf aku tidak tinggi
maaf aku tidak berambut panjang
maaf aku tidak putih
maaf aku tidak langsing
maaf aku tidak pintar
maaf aku tak suka pakai high heels
maaf aku tak bisa pakai jilbab bagus
maaf aku tak suka make up
maaf tanganku tak mulus, terlalu banyak kena deterjen
maaf kukuku tak bagus, terlalu sering kena sunlight
maaf aku tak bisa berhenti mencarimu
maaf aku tak berhenti mengeluh
maaf aku bawel
maaf aku mengganggu
maaf aku mengecewakan
maaf
juga
maaf aku lancang mencintaimu
Diangkatlah saya tinggi-tinggi ketika itu. Tinggi sekali hingga tak kuasa melihat dasaran. Menengadah tak tampak batas. Hanya semilir, berdesir di relung. Riang merasa tanpa tahu apa. Ingin tetap diam di batas namun terus diangkat. Ingin menjejak dasar namun nyaman di ketinggian. Salah. Karena kemudian dilepas. Jatuh. Sakit. Mengutuki diri tak segera mendasar. Justru makin meninggi mencari klimaks. Hasilnya? Antiklimaks. Tergores tidak. Sakitnya nampak. Apalagi, ditinggal kemudian saya.
Segala berpulang dalam diam, tak saling menyapa.
Angkuh kiranya.
Ingin bergegas pun tak jua menggegas.
Hujan. Kala itu hujan. Dingin pun menghampir.
Berpeluh pada inang. Hanya sandar.
Telah berpasir, menyapu mata angin, berkedip, lalu musnah.
Berulang tak terganti.
Begitu hingga kala tak lagi bersuara.
Tak lagi hujan.
Hanya peluh yang bersandar pada inang.
Am. September. 2012
tumblrbot asked: WHERE WOULD YOU MOST LIKE TO VISIT ON YOUR PLANET?
Mecca!
tatapan memburu, selayak napasku memburu
membumbung, selayak inginku membumbung
pintaku intip dunia
tengok angkasa
menembus awan, membelah angan
mencengkeram kisi-kisi cakrawala
merasakan tiupan, hempasan, hantaman, jatuh, lalu bangkit
bebas aku bebas
hingga kebas
satu kepakan sayap buatku terbang
satu kepakan sayap buatku meninggi
satu kepakan sayap buatku mengerti bahwa angin, tak selamanya menjatuhkanku
Am. Agustus. 2012.
Hari hujan. Ketika bayang tak lagi tampak. Tersapu rintik yang tak pernah letih. Senja menghunus. Ronanya sekelebat, tak jua terpandang. Mendung menghalau garis-garis merahnya. Seakan tak mau kalah. Mendung goreskan kelabunya pada langit senja. Jumawa.
Gadis itu, masih di situ. Berteduh. Duduk si sudut, cukup untuk membuat sarang laba-laba di dekatnya terkoyak. Laba-laba hitam kecil menjauh, merambat cepat di samping kakinya. Seakan marah, enggan bergumul dengan perusak sarangnya.
Tetes-tetes air menggema di sudut itu. Membentuk partitur seirama. Menenangkan sebenarnya, tapi tidak bagi gadis itu. Dia agak terusik, tak nyaman di tempatnya. Mencoba menbetulkan letak duduknya agar tak terciprat air dan membuatnya semakin basah. Sekarang dia berusaha mencari celah agar tetap hangat.
Dia lelah. Gadis itu lelah. Matanya menyapu segala arah, mencari entah apa. Sepertinya dia menyerah, tak menemukan apa yang dicari. Merosot di tempatnya dan agak mencelos, kepalanya disandarkan ke dinding terdekat. Dia mulai melemparkan kerikil-kerikil di sekelilingnya. Setelah cukup lama berdiam, dia mulai terisak. Dilipat kakinya ke arah dada. Tangannya melingkar erat di kakinya. Kepalanya dibenamkan, seakan tak ingin ada yang melihat, padahal tak ada orang di sana.
Gadis itu menangis, menangis sejadinya. Dia menengadah sejenak, membetulkan rambut yang menutupi matanya. Lalu kepalanya dibenamkan lagi, lebih dalam dari sebelumnya. Lima menit kurang delapan detik dia berhenti menangis. Hujan mulai reda. Menyisakan rintik yang masih manja menepuk trotoar. Masih terisak, dengan raut wajah sayu dan rambut berantakan, dia berkata lirih,”Ibu… ibu…”
Dan semesta pun menyahut. Gelegar. Petir menggelegar. Menenggelamkan lirih perihnya. Muram.
aku, dalam hentak anganku, bagai ruang tak berpeluh
aku, dalam bentang anganmu yang terlalu sendu, sumringah
aku, dalam haus rinduku, berpegang pada satu waktu
aku, dalam sedih tangisku, tak berujung
aku, dalam riak ceriamu, canda merekah
aku, dalam lirih panggilmu, aku berpaling
aku, dalam aku, masih
dan masih

captured from zarryhendrik.tumblr.com
hmmmm :)